Jenis-Jenis Sukuk dan Perbedaanya dengan Obligasi Konvensional

Photo by Precondo CA on Unsplash

Beberapa waktu yang lalu kita telah membahas apa itu sukuk dan bagaimana perannya dalam pembangunan negara. Sukuk kadang dikenal dengan istilah obligasi syariah, namun sejatinya memiliki perbedaan yang signifikan. Selain pendanaan modal yang disalurkan kepada sektor-sektor yang tidak bertentangan dengan syariah, adakah hal yang lebih signifikan untuk dapat memberdakan membedakan antara sukuk (obligasi syariah) dengan obligasi konvensional? Berikut adalah tabel yang menjelaskan beberapa perbedaan sukuk dan obligasi konvensional. Nah, sebelum memulai berinvestasi melalui sukuk, ada baiknya #GenSyariah mengetahui lebih lanjut mengenai perbedaan sukuk dan jenisnya agar lebih yakin memilih sukuk sebagai salah satu portofolio invetasi #GenSyariah semuanya. 

Berikut adalah tabel perbedaan antara sukuk dengan obligasi konvensional:

Perbedaan Sukuk dengan Obligasi

Sifat instrumen juga dinilai sebagai hal pertama yang membedakan sukuk dengan obligasi konvensional. Pada investasi obligasi konvensional, perdagangan obligasi dinilai sebagai surat utang (pernyataan utang). Sedangkan sukuk menilainya sebagai sertifikat atas kepemilikan atau pembelian aset.

Pada investasi konvensional (ORI dan SBR), investor mendapatkan kupon (bunga) dan capital gain (jika dijual di pasar sekunder) sebagai keuntungan. Sementara pada investasi sukuk akan menerima imbalan yang berasal dari ujrah (uang sewa), margin, bagi hasil, atau imbalan lain sesuai dengan akad yang telah disepakati bersama.

Underlying asset yang dimaksud pada tabel di atas adalah aset yang dijadikan sebagai objek atau dasar transaksi dalam kaitannya dengan penerbitan Sukuk. Aset yang dijadikan sebagai underlying dapat berupa barang berwujud maupun tidak berwujud, seperti tanah, bangunan, berbagai jenis proyek pembangunan, serta aset non fisik lainnya seperti jasa (services).

Sukuk juga memiliki karakteristik umum yang yang membuatnya memiliki kualitas yang sama dengan produk keuangan konvensional lainnya, yaitu:

  1. Dapat diperdagangkan (Tradable). Sukuk mewakili pihak pemilik aktual dari aset yang jelas, manfaat aset, atau kegiatan bisnis, dan dapat diperdagangkan menurut harga pasar. 
  2. Dapat diperingkat (Rateable). Sukuk dapat diperingkat oleh agen pemberi peringkat, baik regional maupun internasional.
  3. Dapat ditambah (Enhanceable). Sebagai tambahan terhadap aset yang mewadahinya (underlying asset) atau aktivitas bisnis, sukuk dapat dijamin dengan jaminan lain berdasarkan prinsip syariah.
  4. Fleksibilitas Hukum (Legal Flexibility). Sukuk dapat distruktur dan ditawarkan secara nasional dan global dengan perlakuan pajak yang berbeda. 
  5. Dapat ditebus (Reedamable). Struktur pada sukuk memungkinkan untuk dapat ditebus.

Pada Mei 2003, Accounting and Auditing Organization for Islamic Institutions (AAOIFI) menetapkan 14 sukuk yang dapat diterbitkan sesuai dengan standar syariah. Sukuk yang sesuai dengan standar AAOIFI adalah Sukuk Mudharabah, Sukuk Musyarakah, Sukuk Ijarah, Sukuk Murabahah, Sukuk Salam, dan Sukuk Istishna’. Selain enam akad tersebut, terdapat dua akad penerbitan sukuk yang dipraktikkan pada penerbitan sukuk di Malaysia, yakni akad bay al-inah dan akad bay aldayn.

  1. Sukuk Ijarah. Sukuk yang diterbitkan berdasarkan akad Ijarah, dan dapat diklasifikasikan menjadi antara lain: 
  • Sukuk kepemilikan aset berwujud yang disewakan, yaitu sukuk yang diterbitkan oleh pemilik aset yang disewakan atau yang akan disewakan, dengan tujuan untuk menjual aset tersebut dan mendapatkan dana dari hasil penjualan, sehingga pemegang sukuk menjadi pemilik aset tersebut.
  • Sukuk kepemilikan manfaat, yaitu sukuk yang diterbitkan oleh pemilik aset atau pemilik manfaat aset, dengan tujuan untuk menyewakan aset/manfaat dari aset dan menerima uang sewa, sehingga pemegang sukuk menjadi pemilik manfaat dari aset.
  • Sukuk kepemilikan jasa, yaitu sukuk yang diterbitkan dengan tujuan untuk menyediakan suatu jasa tertentu melalui penyedia jasa (seperti jasa pendidikan pada universitas) dan mendapatkan fee atas penyediaan jasa tersebut, sehingga pemegang sukuk menjadi pemilik jasa.
  1. Sukuk Murabahah. Sukuk yang diterbitkan berdasarkan prinsip jual-beli, penerbit sertifikat sukuk adalah penjual komoditi, sedangkan investornya adalah pembeli komoditi tersebut. 
  2. Sukuk Salam. Sukuk yang diterbitkan dengan tujuan untuk mendapatkan dana untuk modal dalam akad Salam, sehingga barang yang akan disediakan melalui akad Salam menjadi milik pemegang sukuk.
  3. Sukuk Istishna’. Sukuk yang diterbitkan dengan tujuan mendapatkan dana yang akan digunakan untuk memproduksi suatu barang, sehingga barang yang akan diproduksi tersebut menjadi milik pemegang sukuk.
  4. Sukuk Mudharabah. Sukuk yang merepresentasikan suatu proyek atau kegiatan usaha yang dikelola berdasarkan akad mudharabah, dengan menunjuk salah satu partner atau pihak lain sebagai mudharib (pengelola usaha) dalam melakukan pengelolaan usaha tersebut.
  5. Sukuk Musyarakah. Sukuk yang diterbitkan dengan tujuan memperoleh dana untuk menjalankan proyek baru, mengembangkan proyek yang sudah berjalan, atau untuk membiayai kegiatan bisnis yang dilakukan berdasarkan akad musyarakah, sehingga pemegang sukuk menjadi pemilik proyek atau aset kegiatan usaha tersebut, sesuai dengan kontribusi dana yang diberikan. Sukuk musyarakah tersebut dapat dikelola dengan akad musyarakah (partisipasi), mudharabah atau agen investasi (wakalah).

Berdasarkan sumber penerbitannya, sukuk dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Sukuk Korporasi. Sukuk korporasi merupakan jenis obligasi syariah yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang memenuhi prinsip syariah.

Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Surat Berharga Syariah Negara selanjutnya disingkat SBSN, atau dapat disebut sukuk negara, adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. SBSN untuk investor individu juga dibagi menjadi dua jenis yaitu sukuk ritel dan sukuk tabungan. Dalam obligasi konvensional terdapat Savings Bond Ritel (SBN) dan Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI).

Penulis:

Mia Izzatul Afkarina

Reviewer:

Lusiana Ulfa Hardinawati, S.Ei., M.Si.

Editor:

Nulido Firgiyanto

Sumber:

https://www.kajianpustaka.com/2018/11/pengertian-karakteristik-dan-jenis-sukuk.html

Akad Penerbitan Sukuk di Pasar Modal Indonesia dalam Perspektif Fikih

http://repo.iain-tulungagung.ac.id/18292/7/BAB%20III.pdf

https://www.bareksa.com/berita/sbn/2018-10-30/apa-bedanya-obligasi-konvensional-dan-syariah-ini-penjelasan-soal-sukuk.

BROSUR MENGENAL SUKUK.FH10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: